Pages

Kamis, 14 Juli 2011

Menyesal pada akhirnya

setiap pria pasti ingin memberikan yang terbaik untuk wanita yang dia cintai, tapi bagaimana jika pemberiannya itu merupakan kesedihan untuk dirinya? masihkah pria itu berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk sang wanitanya? 
suatu pencurahan isi pemikiran yang begitu singkat akan tetapi dapat mewakili isi hati yang sebenarnya.. ini sebuah kisah yang akan saya berikan untuk diri seseorang yang begitu saya inginkan kebahagiaan atas dirinya..



Kamis 20/06/11


Pasti kalian sudah mengetahui yang namanya pasang surut air laut, tapi mungkin kalian tidak mengetahui hubungan pasang surut air laut tersebut dengan keterangan waktu yang aku cantumkan di atas.
Dimulai dengan rasa yang begitu menyenangkan hingga tidak memikirkan diri ini untuk bangun di pagi hari, tetapi sebuah burung merpati putih mengirimkan surat kepada ku untuk memikirkan kembali pemikiranku yang bodoh itu, dengan senyum aku membaca sebuah kalimat dalam surat tersebut. Senyum, mungkin itu suatu hal yang kini aku butuhkan, tetapi di pagi hari itu aku mendapatkan senyum yang mungkin aku tidak akan dapat lagi. Berbuatlah baik kepada orang lain maka orang lain akan berbuat hal yang sama kepadamu, itu suatu kata yang akhirnya aku mengerti walau dalam pengertian sendiri. Maka aku memulai dengan kejujuran dalam diriku yang dapat dilakukan oleh orang lain terhadapku. Dengan mendapat suatu kejujuran tersebut aku mulai menambah semangat dan senyumku di pagi hari itu.

Seiring dengan waktu, matahari pun mulai menyuruhku menjalani aktivitas hingga aku sedikit melupakan senyumnya. Tetapi melihatnya membuat diriku mengingat kembali senyum itu. Mungkin berkata dalam hati,”apa yang akan aku lakukan dengannya hari ini?” tapi pertanyaan ini begitu menakutkan bagiku, maka aku mengubahnya “siapa yang akan memulai untuk melakukan berbagai macam hal bersama-sama hari ini?”. Suatu hal yang kita ragukan ternyata dapat menjadi kekuatan tersendiri, ya, aku yang memulai. Tidak sampai matahari bergerak aku dekatnya hari ini, aku mempunyai aktivitas lain dan dia juga.

Penyesalan haruslah diakhir, kenapa aku berkata demikin? Seandainya aku mengetahui penyesalan tersebut, tidaklah aku melakukan aktivitas yang egois dan tidak memperdulikan orang lain hingga kejadian disiang hari berbanding terbalik dengan pagi hari. Seperti biasa aku yang memulai untuk mendekatinya, sebuah panah tertancap di depanku dengan sebuah kertas yang ikut tertancap di panah itu. Kali ini bukan senyum yang aku dapat, semacam pertanda akan hujan badai yang sudah gelap gulita aku terus melanjutkan aktivitas dengan rasa mulai cemas.

Dengan ragu dan penasaran aku melanjutkan membaca isi kertas tersebut, seorang yang sering aku butuhkan sebagai teman kini membutuhkanku. Aku hanya dapat terdiam, dan tidak memperbaiki hal apapun. Aku kecewa pada diriku sendiri, kenapa tidak melakukan hal apapun? Apa aku bodoh? Atau takut mimpi buruk yang mengusir mimpi indah itu akan datang? Ya dengan semua pemikiran yang terlambat akhirnya mimpi buruk itupun datang.
Aku GAGAL dan aku terhempas ke dasar mimpi buruk itu, tidak dapat kembali dengan mudah. Dengan alasan ini aku menuliskan “penyesalan” sebagai awal paragraf. Aku menyesal kenapa tidak melakukan sesuatu yang berguna baginya? Kenapa aku tidak ada di sampingnya saat dia butuh? Kenapa aku tidak mengajaknya dalam aktivitasku yang akhirnya aku men-cap aktivitasku sebagai “aktivitas yang EGOIS”. Aku sangat terpuruk dan bersedih, tapi tidak sedikit pun emosi yang keluar dari wajahku memperlihatkan aku seperti itu. Hati ini yang mempunyai beban tertinggi, aku menambahkan beban tersebut dengan menahannya keluar. Dengan semua kejadian tersebut hatiku mulai mengambil keputusan yang mengerikan, dia membuat aku mulai membenci seseorang hingga aku merasa tidak mau bertemu dengannya lagi.

Aku memulai lagi setelah melaksanakan segudang aktivitas EGOIS-ku itu, kali ini pun aku masih berkata jujur bahwa aku sedang bersedih, dan layaknya orang melihat orang lain bersedih dia menghibur dan bertanya kenapa aku bersedih. Aku malas berkata dengan langsung, aku memilih matahari dan bulan sebagai pengganti kata-kata itu. Aku berkata “sangat iri dengan matahari yang begitu rela bertukar tempatnya dengan bulan dalam menjalani tugasnya setiap hari, dia tidak egois dan memikirkan ras manusia yang membutuhkan malam untuk berbagai macam aktivitas mereka”.

Mungkin aku menggunakan bahasa yang sulit di pahami, tetapi aku ingin berkata kepadanya kalau aku butuh dia di hari-hariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar